Senin, 26 November 2012

Makalah Administrasi dan Supervisi pendidikan Islam

 BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Dalam Al-Qur’an maupun dalam Hadist-hadist banyak kita jumpai istilah-istilah yang berkaitan dengan kepemimpinan di antaranya : Amir, Khalifah, Imamah dsb. ini berarti Islam telah lebih dahulu mengetahui dan menetapkan mengani asas-asas kepemimpinan jauh sebelum para ahli Barat membahasnya. Namun, berbagai teori yang digambarkan para ahli mengenai kepemimpinan tak jarang membuat orang tidak memahami akan arti sebenarnya tentang kepemimpinan dalam Islam. Sehingga hampir kebanyakan pemimpin saat ini,  telah lari dari arti kepemimpinan dalam ajaran Islam.
Gaya kepemimpinan yang melanggar garis ketetapan Allah, hanyalah menumbuhkan anarkisme dan keganasan hawaniah sebagaimana disebutkan oleh Thomas Hobbes ”Homo Homini Lupus, Bulkum Omhium Contra Omnus” ”Manusia Akan Menjadi Pemangsa Manusia Yang Lainnya”.
Semua orang ingin jadi pemimpin ! Ribuan orang mengharapkan dirinya menjadi seorang pemimpin. Mereka tidak pernah merasa bahwa sebenarnya dirinya adalah seorang pemimpin. Hampir setiap orang menjadi pemimpin di lingkungannya masing-masing. Terlepas dari besar kecilnya jumlah orang dalam kelompok tersebut. Bahkan seorang manusia pun harus memimpin dirinya sendiri untuk mengarahkan akan ke mana hidupnya.
Seringkali orang memahami kepemimpinan dalam arti sempit sekali. Sehingga mereka mengetahui kepemimpinan adalah para pemimpin negara, wilayah, perusahaan dsb. Ketidak sadaran inilah yang mengakibatkan orang tidak mau mengembangkan ilmu kepemimpinannya. Ditambah dengan jargon-jargon seperti : ”Saya ini rakyat kecil”, padahal ia adalah seorang tukang becak hebat yang memimpin keluarganya dirumah. Yang bisa menciptakan anak-anaknya untuk menjadi pemimpin yang besar. Sebagai seorang khalifah (pemimpin) dimuka bumi.
Manusia telah diciptakan untuk menjadi pemimpin dimuka bumi (dalam arti sempit dipahami sebagai pemimpin diri sendiri). Namun, permasalahan yang terjadi, sudahkah semua pemimpin di dunia ini mencerminkan konsep kepemimpinan sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam tingkah laku dan keteladanan hidupnya ? Lalu, sebenarnya bagaimana konsep kepemimpinan yang ditawarkan dalam Islam ?
Kepemimpinan dalam Islam adalah merupakan Sunnatullah / ketetapan dari Allah SWT. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an : QS. Al-Baqarah Ayat 30,
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ  
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Nabi Muhammad SAW Bersabda : “Ketahuilah bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Setiap kepala negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya (rakyat). Seorang perempuan/ibu adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya; ia bertanggung atas kepemimpinannya. Seorang pelayan/hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Ketahuilah bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan masing-masing mempertanggungjawabkan atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dari Ibnu Umar)
Melalui dua dalil ini dapat kita pahami bahwasanya kepemimpinan adalah suatu ketetapan dari Allah SWT yang keberadaannya tidak mungkin ditawar lagi. Adanya kepemimpinan dalam Islam di dunia ini merupakan suatu keharusan yang mutlak.
Dari pemaparan penjelasan tentang kepemimpinan di atas, dapat dikatakan bahwa suatu lembaga pendidikankan juga perlu kepemimpinan, pengelolaan kepemimpinan yang baik akan menentukan baik dan berkualitasnya suatu lembaga pendidikan. Kepala Negara yang baik lahir dari masyarakat yang baik, masyarakat yang baik lahir dari keluarga yang baik pula, dan keluarga yang baik lahir dari individu-individu yang baik. Pertanyaannya, apakah kepribadian baik itu akan datang sendiri, ? Tidak, semua butuh peruses, inilah tugas dan kewajiban suatu lembaga pendidikan, untuk menghasilkan kader-kader anak didik yang berkualitas, bermoral, berahlak baik, dan amanah seperti yang telah di contohkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.
Mutu pendidikan atau mutu sekolah tertuju pada mutu lulusan. Merupakan sesuatu yang mustahil, apabila pendidikan atau sekolah menghasilkan lulusan yang bermutu, jika tidak melalui proses pendidikan yang bermutu pula. Merupakan sesuatu yang mustahil, terjadi proses pendidikan yang bermutu jika tidak didukung oleh faktor-faktor penunjang proses pendidikan yang bermutu. Proses pendidikan yang bermutu harus didukung oleh personalia, seperti administrator, guru, dan tata usaha yang bermutu dan profesional. Hal tersebut didukung pula oleh sarana dan prasarana pendidikan, fasilitas, media, serta sumber belajar yang memadai, baik mutu maupun jumlahnya, dan biaya yang mencukupi, manajemen yang tepat, serta lingkungan yang mendukung. Mutu pendidikan bersifat menyeluruh, menyangkut semua komponen, pelaksana, dan kegiatan pendidikan, atau disebut sebagai mutu total atau “Total Quality”. Adalah sesuatu yang tidak mungkin, hasil pendidikan yang bermutu dapat dicapai hanya dengan satu komponen atau kegiatan yang bermutu. Kegiatan pendidikan cukup kompleks, satu kegiatan, komponen, pelaku, waktu, terkait, dan membutuhkan dukungan dari kegiatan, komponen, pelaku, serta waktu lainnya.
Saat ini, mutu menjadi satu-satunya hal yang sangat penting dalam pendidikan, bisnis dan pemerintahan. Kita semua mengakui, saat ini memang ada masalah dalam sistem pendidikan. Lulusan SMA atau perguruan tinggi tidak siap memenuhi kebutuhan masyarakat. Para siswa yang tidak siap menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan produktif itu, akhirnya hanya akan menjadi beban masyarakat. Para siswa itu adalah produk sistem pendidikan yang tidak terfokus pada mutu, yang akhirnya hanya memberatkan anggaran kesejahteraan sosial. Banyak masalah mutu dihadapi dalam dunia pendidikan, seperti mutu lulusan, mutu pengajaran, bimbingan dan latihan dari guru, serta mutu profesionalisme dan kinerja guru. Mutu-mutu tersebut terkait dengan manajerial para pimpinan pendidikan, keterbatasan dana, sarana dan prasarana, fasilitas pendidikan, serta dukungan dari pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan. Semua kelemahan mutu dari komponen-komponen pendidikan tersebut berujung pada rendahnya mutu lulusan.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa Tujuan Administrasi dan Supervisi ?
2.      Bagaimana Cara Mengelola suatu lembaga pendidikan yang berkualitas ?








BAB II
PEMBAHASAN

A.                ADMINISTRASI
1.     Pengertian Administrasi

Kata “administrasi” berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata ad dan ministrate. Kata ad mempunyai arti yang sama dengan kata to dalam bahasa inggris , yang berarti “ke” atau “kepada” dan ministrate sama artinya dengan kata to serve atau to conduct yang berarti” melayani”, “membantu”, “mengarahkan”.
Dalam bahasa inggris to administer berarti pula mengatur , memelihara (to after) dan mengarahkan (Drs. The Liang Gie, 1978, Pengertian Kedudukan dan Perincian Ilmu Administrasi. Karya Kencana, Yogyakarta, hal: 9)
Beberapa rumusan tentang pengertian administrasi pendidikan dikemukakan antara lain;
Monre (1952), administrasi pendidikan adalah pengarahan, pengawasan, pengelolaan, segala hal yang berkaitan dengan sekolah, termasukadministrasi pembiayaan. Dalam arti segala aspek yang berkaitan dengan sekolah harus dipertimbangkan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Roring (1966), administrasi pendidikan dapat diartikan pula sebagai pelaksanaan pimpinan yang mewujudkan aktivitas kerja sama yang efektif bagi tercapainya tujuan pendidikan.
Nasution (1972), administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan, semua kegiatan, bependidikan adalah proses memanfaatkan sumber daya pendidikan melalui kerjasama sejumlah orang dengan melaksanakan fungsi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Kurikulum SMP (1975), administrasi pendidikan adalah segala usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber (personal maupun materil) secara efesien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan .
Nawawi (1983), administrasi pendidikan adalah rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara berencana dan sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal.
Pendapat pakar tentang administrasi hampir ada kesamaan, seperti
Suharsimi Arikunto, administrasi adalah usaha bersama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efesien dengan menggunakan segala dana dan daya yang ada.
Sondang P. Siagian menyatakan bahwa adminsitrasi pendidikan adalah keseluruhan proses pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh lebih dari dua orang , hal tersebut dilakukan untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.
Asnawir administrasi pendidikan merupakan aplikasi dari ilmu administrasi dalam kegiatan pembinaan, pengembangan dan pengendalian usaha-usaha pendidikan yang diselenggarakan dalam wujud kerjasama sejumlah orang dengan menggunakan segala sarana dan prasarana yang ada baik moral maupun material dan spiritual guna mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efesien.
Di sisi lain, administrasi merupakan usaha mengatur, mengendalikan, mengerakkan. Dari pengertian ini dapat dicermati bahwa administrasi merupakan kerja manajemen, dengan demikian inti dari administrasi adalah manajemen. Administrasi dikatakan sebagai inti dari manajemen karena dalam melaksanakan manajemen selalu berhubungan dengan manajemen itu sendiri. Dengan demikian dapat dinayatakan bahwa ketika administrasi tidak ada manajemen maka administrasi tidak akan jalan. Dengan demikian manajemen menentukan hasil dari tujuan administrasi tersebut. Jika tidak ada manajemen yang baik maka administrasi tidak akan berjalan dengan baik, karena pada dasarnya dalam melaksanakan tugas-tugas administrasi membutuhkan manajemen yang baik dan benar sesuai dengan kaidah yang ada.
2.     Dasar Administrasi
Adapun dasar administrasi adalah sebagai berikut,
a)     Efesiensi,seorang administrasi akan berhasil dalam tugasnya bilamana dia   efesien dalam menggunakansemua sumber tenaga  dana dan fasilitas yang  ada.
b)     Prinsip pengelolaan,administrator akan memperoleh yang paling efektif dan efesien melalui orang lain dengan jalan melakukan pekerjaan menejemen yakni merencanakan ,mengorganisasikan,mengarahkan dan mengontrol.
c)      Prinsip mengutamakan tugas pengelolaan,maksudnya adalah sebagai petugas seorang administrator harus mengutamakan tugas pokonya ketimbang tugas  lain yang sifatnya penunjang.
d)     Prinsip kepemimpinan yang efektif yakni memperhatikan dimensi-dimensi   hubungan antar manusia (human  relationship) ,dimensi pelaksanaan tugas dan dimensi situasi(sikon) yang ada.
e)      Prinsip kerja sama,seorang administrator akan berhasil baik dalam tugasnya bila ia mampu mengemban kerja sama di antara orang-orang yang terlibat, baik secara horixontal maupun secara vertical.
3.     Tujuan Administrasi  Pendidikan
Tujuan administrasi pendidikan adalah agar semua kegiatan yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Kemudian menurut Sergiovani dan Carver  adalah efektivitas produksi,efesien,kemampuan menyesuaikan diri,dan kepuasan kerja.
Sedangkan tujuan administrasi pendidikan di Indonesia yang dilaksanakan di sekolah juga bersumber dari tujuan pendidikan Nasional yang digariskan dalam GBHN adalah meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa,mempertinggi budi pekerti,atau memiliki kepribadian mempertebal semangat kebangsaan agar menjadi manusia pembangunan ,memiliki kecerdasan serta terampil.


4.     Bidang Garapan Administrasi.
a)                 Administrasi tata laksana sekolah yang meliputi;
v  Organisasi dan Struktur
v  Otorisasi dan anggaran
v  Kepegawaian
v  Perlengkapan dan perbekalan
v  Keuangan dan pembukuan
v  Korespondensi/surat menyurat
v  Laporan
v  Pengangkatan,penempatan dan pemindahan serta pemberhentian
v  Pengisian buku pokok (induk) raport dsb.
b)                 Administrasi personal guru dan pegawai sekolah melipuiti;
v  Pengangkatan dan penempatan guru
v  Organisasi personal guru
v  Masalah kepegawaian dan kesejahteraan guru
v  Rencana orientasi bagi tenaga guru baru
v  kondiute dan penilaian kemajuan guru
v  Inserrvise training dan up-grading guru.
c)                  Administrasi murid melipuiti;
v  Organisasi dan perkumpulan murid
v  Masalah kesehatan dan kesejahteraan murid
v  penilaian dan pengukuran murid
v  Bimbingan dan penyuluhan.
d)                 Supervisi Pengajaran meliputi;
v  Usaha membangkitkan dan merangsang semangat guru
v  Usaha mengembanngkan,mencari dan menggunakan metode baru
v  Mengusahakan cara-cara menilai hasil pendidikan dan pengajaran
v  Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru.
e)                 Pelaksanaan dan pembinaan kurikulum meliputi;
v  Mempedomani dan merealisasikan apa yang tercantum dalam kurikulum
v  Menyusun dan melaksanakan organisasi kurikulum beserta materi,sumber  Dan metode.
v  Menuruti atau megikuti kurikulum yang sudah ada juga berhak atau boleh  Memilih atau menambah materi atau metode  yang sesuai dengan kebutuhan.
f)                   Pendirian dan perencanaan bangunan sekolah meliputi;
v  cara memilih letak dan menentukan luas tanah yang dibutuhkan
v  Mengusahakan merencanakan dan menggunakan pendirian gedung sekolah
v  Menentukan jumlah dan luas ruangan kelas,kantor,asrama ,lapangan olah  Raga halaman sekolah dll.
v  Cara penggunaan sarana dan prasarana serta pemeliharaannya dan lain2.
g)                 Hubungan masyarakat meliputi;
Hal ini hubungan antara sekolah dengan sekolah ,pemerintah/instransi yang Terkait,dan hubungan masyarakat pada umumnya.
5.     Fungsi fungsi Administrasi Pendidikan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang fungsi administrasi pendidikan adalah sebagai berikut;
a)     Perencanaan.
Setiap program ataupun konsepsi memerlukan perencanaan terlebih dahulu sebelum melaksanakan.Perencanaan adalah cara menghampiri masalah. Dalam penghampiran masalah itu si perencana berbuat merumuskan apa saja yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
Perencanaan merupakan sarat mutlak bagi kegiatan administrasi,tanpa perencanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Didalam kegiatan perencanaan ada dua factor yang harus diperhatikan ,yaitu factor  tujuan  dan factor sarana ,baik sarana personal maupun sarana material.
Sedangkan langkah-langkah dalam perencanaan meliputi;
1.      Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai.
2.      Meneliti masalah –masalah atau pekerjaan-pekerjaanyang akan dilakukan
3.      Mengumpulkan data-data dan informasi yang diperlukan.
4.      Menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan.
Merumuskan bagaimana masalah-masalah itu akan dipecahkan dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu akan diselesaikan.
Syarat-syarat perencanaan adalah sebagai berikut;
1.      Perencanaan harus didasarkan atas tujuan yang jelas.
2.      Bersifat sederhana ,realitas dan jelas.
3.      Terinci memuat segala uraian serta klasifikasi kegiatan dan rangkaian tindakan sehingga mudah dipedomani dan dijalankan.
4.      Memilki fleksibelitas sehingga mudah disesuaikan dengan kebutuhan serta situasi dan kondisi sewaktu-waktu.
5.      Terdapat pertimbangan antara bermacam-macam bidang akan digarap dalam perencanaan itu .Menurut urgensi masing-masing.
6.      Diusahakan adanya penghematan tenaga,biaya,dan waktu serta kemungkinan penggunaan sumber daya dan dana yang tersedia dengan sebaik-baiknya,
7.      Diusahakan agar sedapat mungkin tidak terjadi adanya duplikasi pelaksanaan.
Dengan kata lain perencanaan dapat berarti pula memikirkan tentang penghematan tenaga,biaya dan waktu,juga membatasi kesalahan –kesalahan yang mungkin terjadi dan menghindari adanya duplikasi-duplikasi atau tugas-tugas /pekerjaan rangkap yang dapat menghambat jalan penyelesaiannya.
b)     Pengorganisasian.
Pengorganisasian merupakan aktivitas menyusun dan membentuk hubungan-hubungan kerja antara orang-orang sehingga terwujudnya suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Pengorganisasian sebagai fungsi adminiatrsi pendidikan menjadi tugas utama bagi para pemimpin pendidikan termasuk kepala sekolah,terutama dalam kegiatan sehari-hari di sekolah terdapat berbagai macam pekerjaan yang memerlukan kecakapan dan ketrampilan dan tanggung jawab yang berbeda-beda.
Kemudian yang perlu diperhatikan dalam pengorganisasian antara lain ialah pembagian tugas,wewenang dan tanggung jawab ,hendaknya disesuaikan dengan pengalaman,bakat,minat,pengetahuan dan kepribadian masing-masing orang-orang yang diperlukan dalam menjalankan tugas.
Fungsi Organisasi dapat diartikan bermacam-macam yaitu;
1.      Sebagai pemberi struktur terutama dalam penyusunan /penempatan personal,pekerjaan-pekerjaan materilan dan pikiran=pikirandi dalam struktur.
2.      Sebagai menetapkan hubungan antara orang –orang,kewajiban-kewajiban,hak-hak dan tanggung jawab masing-masing anggota disusun menjadi pola-pola kegiatan yang tertuju pada tercapainya tujuan .
3.      Sebagai alat untukmempersatukan usaha-usaha untuk menyelesaikan pekerjaan.       Organisasi yang baik hendaklah memiliki cirri-ciri atau sifat sebagai berikut;
1.      Memiliki tujuan yang jelas.
2.      Tiap anggota memahami dan menerima tujuan tersebut.
3.      Adanya kesatuan arah sehingga dapat menimbulkan kesatuan tindakan dan  kesatruan pikiran.
4.      Adanya kesatuan perintah,para bahwahan hanya mempunyai seorang atasan langsung daripadanya ia menerima perintah atau bimbingan dan kepada siapa ia harus mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya.
5.      Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab masing-masing anggota.
6.      Adanya pembagian tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan,keahlian dan bakat masing-masing.Sehingga dapat menimbulkan kerja sama yang harmonis dan kooperatif.

Pengkoordinasian,
Adanya bermacam- macam tugas/pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang ,memerlukan adanya koordinasi dari seorang pemimpin.
Adanya koordinasi yang baik dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat atau kesimpang siuran dalam tindakan.
Kita mengetahui bahwa rencana/program-program pendidikan yang harus di laksanakan di-sekolah-sekolah sifatnya sangat kompleks dan sangat mengandung banyak segi yang saling bersangkut paut satu sama lain.
Sifat komplek yang dipunyai oleh program pendidikan di sekolah menunjukkan sangat perlunya tindakan-tindakan yang di koordinasi kan atau dengan kata lain koordinasi ialah aktivitas membawa orang-orang material.pikiran-pikiran,tehnik-tehnik,tujuan-tujuan kedalam hubungan yang harmonis dan produktif dalam mencapai suatu tujuan.

Komunikasi.
Komunikasi dalam setiap bentuk adalah suatu proses yang hendak mempengaruhi sikap dan perbuatan orang-orang  dalam struktur organisasi.
Kemudian didalam komunikasi diperlukan motivasi dengan memperhatikan unsure-unsur sebagai berikut;
1.     Adanya keinginan untuk berhasil.
2.     Kejelasan tindakan yang harus diambil/dianjurkan.
3.     Keyakinan bahwa perubahan yang dianjurkan akan membawa hasil positif.
4.     Keyakinan adanya kesempatan yang sama bagi semua anggota.
5.     Keinginan akan adanya kebebasan untuk menentukan ,menolak ataupun menerima apa yang dianjurkan.
6.     Adanya tendensi untuk menilai (berdasarkan moral dan etika yang dianutnya) apa yang dianjurkan  sebelum melaksanakan.
Supervisi.
Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervise,dimana pengawsan bertanggung jawab tentang kefektifan program.Oleh karena itu supervise haruslah meneliti ada tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
Dengan kata kata lain fungsi terpenting supervise adalah sebagai berikut;
1.     Menentukan kondisi-kondisi atau syarat-syarat apakah yang diperlukan.
2.     Memenuhi/mengusahan syarat-syarat yang di perlukan.
Kepegawaian.
Masalah yang diperlukan dalam didalam kegiatan-kegiatan kepegawaian ialah pemberian motivasi kepada para pegawai agar selalu bekerja giat,kesejahteraan pegawai,insentif dan penghargaan atau jasa-jasa mereka.Kondite dan bimbingan untuk dapat lebih maju.kemudian adanya kesempatan untuk mengapgrade diri,masalah pemberhentian dan pensiun pegawai.
Pembiayaan.
Pembiayaan ini dapat diibarakan bensin bagi sebuah mobil atau motor. Mengingat pentingnya biaya bagi setiap organisasi ,tanpa biaya yang mencukupi tidak mungkin terjamin kelancaran jalannya suatu organisasi.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembiayaan adalah sebagai berikut;
1.     Rencanakan tentang beberapa pembiayaan yang diperlukan,
2.     Dari mana dan bagaimana biaya itu dapat diperoleh/diusahakan.
3.     Bagaimana penggunaannya.
4.     Siapa yang melaksanakannya.
5.     Bagaimana pembukuan dan pertanggung jawabannnya.
6.     Bagaimana pengawasan dan lain-lain.
Penilaian.
Evaluasi sebagai fungsi administrasi pendidikan adalah aktivitas untuk meneliti dan mengetahui sampai dimana pelaksanaan yang dilakukan didalam proses keseluruhan organisasi dalam mencapai hasil yang sesuai dengan rencana atau program yang telah ditetapkan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan.Dengan kata lain supervise atau evaluasi selanjutnya dapat diusahakan bagaimana cara-cara memperbaikinya.

B.                SUPERVISI
1.     Pengertian Supervisi
Supervisi di adopsi dari bahasa Inggris “supervision” yang berarti pengawasan/kepengawasan. Super berarti atas, lebih dan visi berarti lihat/penglihatan, pandangan. Orang yang mengerjakan supervisi disebut supervisor (Ary H. Gunawan (1996: 193). Menurut konsep kuno supervisi dilaksanakan dalam bentuk “inspeksi” atau mencari kesalahan. Sedangkan pandangan modern supervisi adalah usaha untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, yaitu sebagai bantuan bagi guru dalam mengajar untuk membantu siswa agar lebih baik dalam belajar. Menurut Burton (1955: 1) secara umum supervisi berarti upaya bantuan yang diberikan kepada guru dalam melaksanakan tugas
profesionalnya, agar guru mampu membantu para siswanya dalam belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Supervisi merupakan suatu teknis pelayanan profesional dengan tujuan utama mempelajari dan memperbaiki bersama-sama dalam membimbing dan mempengaruhi pertumbuhan anak. Menurut Kimbal Wiles (1955) menegaskan bahwa supervise berusaha untuk memperbaiki situasi-situasi belajar mengajar, menumbuhkan kreativitas guru, memberi dukungan dan mengikutsertakan guru dalam kegiatan sekolah, sehingga menumbuhkan rasa memiliki bagi guru. Adapun personel yang menjalankan kegiatan supervisi disebut supervisor.
Dengan demikian administrasi dan supervisi merupakan sebagian dari proses pendidikan yang tidak bisa ditinggalkan, namun masih banyak yang memahami bahwa administrasi termasuk yang sering menghambat dalam proses belajar mengajar. Dimana administrasi sering diartikan secara sempit yakni kegiatan
ketatausahaan dan surat menyurat, padahal administrasi merupakan proses untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah direncanakan, sebagaimana juga supervisi. Supervisi dalam pendidikan telah lama dikenal namun tidak semua orang dalam dunia pendidikan mengerti apa hakekat supervisi itu sendiri. Supervisi disamakan dengan pekerjaan mengawasi, supervisi lebih banyak mengawasi daripada berbagai ide pengalaman. Guru cenderung menjadi resah dan takut apabila mereka diawasi, sehingga kenbanyakan guru tidak suka disupevisi walaupun hal itu merupakan bagian proses pendidikan. Jadi supervisi mempunyai pengertian yang luas, dimana segala bantuan dari pimpinan sekolah, yang tertuju kepada perkembangan
kepemimpinan guru-guru dan personal sekolah lainnya di dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan kata lain dapat disimpulkan dari beberapa pendapat bahwa supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Peningkatan kinerja guru ditentukan oleh tingkat keberhasilan peran
kepala sekolah, dalam hal ini kepala sekolah sebagai administrator dan supervisor. Sementara itu pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah diantaranya adalah membenahi kekurangan dan kelemahan dalam melaksanakan tanggung jawab yang diembannya. Sedangkan strategi yang dapat diterapkan oleh kepala sekolah diantarannya adalah menerapkan arah tindakan dan cara yang sifatnya mendasar melalui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, itu semua diharapkan untuk meningkatkan kualitas dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Kepala sekolah sebagai pimpinan puncak lembaga pendidikan
berkewajiban memberikan arahan, bimbingan, motivasi, pembinaan, peningkatan dan pengembangan para guru dan staf tata usaha, serta menumbuhkan kreatifitas dan produktivitas yang tinggi untuk hasil yang maksimal.

2.     Tujuan Supervisi Pendidikan
Dalam melakukan suatu pekerjaan orang yang terlibat dalam pekerjaan itu harus mengetahui dengan jelas apakah tujuan pekerjaan itu, yaitu apa yang hendak dicapai. Dibidang pendidikan dan pengajaran seorang supervisor pendidikan harus mempunyai pengetahuan yang cukup jelas tentang apakah tujuan supervisi itu. Tujuan umum supervisi pendidikan adalah memperbaiki situasi belajar mengajar, baik belajar para siswa, maupun situasi mengajar guru.  Wiles dan W.H. Burton sebagaimana dikutip oleh Burhanuddin mengungkapkan bahwa tujuan supervisi pendidikan adalah .membantu mengembangkan situasi belajar mengajar kearah yang lebih baik. Tujuan supervise pendidikan tidak lain adalah untuk meningkatkan pertumbuhan siswa dan dari sini sekaligus menyiapkan bagi perkembangan masyarakat.  Amatembun merumuskan tujuan supervisi pendidikan (dalam hubungannya dengan tujuan pendidikan nasional) yaitu membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia-manusia pembangunan yang dewasa yang berpancasila.  Yushak Burhanuddin mengemukakan bahwa tujuan supervise pendidikan adalah .dalam rangka mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik melalui pembinaan dan peningkatan profesi mengajar, secara rinci sebagai berikut:
a.       Meningkatkan efektifitas dan efisiensi belajar mengajar
b.      Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif disekolah sesuai dengan
ketentuan-ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan
c.       Menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga berjalan lancar dan memperoleh hasil optimal.
d.      Menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya
e.       Memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan, dan kehilafan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah, sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh. Pelaksanaan supervisi dalam lapangan pendidikan pada dasarnya bertujuan memperbaiki proses belajar mengajar secara total.  Dalam hal ini bahwa tujuan supervisi tidak hanya memperbaiki mutu mengajar guru, akan tetapi juga membina pertumbuhan profesi guru dalam arti luas termasuk pengadaan fasilitas yang menunjang kelancaran pembelajaran, meningkatkan mutu pengetahuan dan keterampilan guru, memberikan bimbingan dan pembinaan dalam pelaksanaan kurikulum, pemilihan dan penggunaan metode mengajar dan teknik evaluasi pengajaran.

3.      Fungsi Supervisi Pendidikan
Tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu proses kerjasama hanyalah merupakan cita-cita yang masih perlu diwujudkan melalui tindakan-tindakan yang nyata. Begitu juga seorang supervisor dalam merealisasikan program supervisinya memiliki sejumlah tugas dan tanggungjawab yang harus dijalankan secara sistematis. Menurut
W.H. Burton dan Leo. J. Bruckner sebagaimana dikutip oleh Piet A. Sahertian menjelaskan bahwa fungsi utama supervisi adalah menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi hal belajar.  Menurut Swearingen, terdapat 8 (delapan) hal yang menjadi fungsi supervisi pendidikan yakni:
a.       Mengkoordinasikan semua usaha sekolah
b.      Memperlengkapi kepemimpinan sekolah
c.       Memperluas pengalaman guru-guru
d.      Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif
e.       Memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus
f.       Menganalisis situasi belajar mengajar
g.      Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf
h.      Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan mengajar guru-guru.
Sesuai dengan fungsinya, supervisi harus bisa mengkoordinasikan semua usaha-usaha yang ada dilingkungan sekolah. Ia bisa mencakup usaha setiap guru dalam mengaktualisasikan diri dan ikut memperbaiki kegiatan-kegiatan sekolah. Dengan demikian perlu dikoordinasikan secara terarah agar benar-benar mendukung kelancaran program secara keseluruhan. Usaha-usaha tersebut baik dibidang administrasi maupun edukatif, membutuhkan keterampilan supervisor untuk mengkoordinasikannya, agar terpadu dengan sasaran yang ingin dicapai. Oteng Sutisna mengemukakan beberapa fungsi supervisi :
a.       Sebagai penggerak perubahan
b.      Sebagai program pelayanan untuk memajukan pengajaran
c.       Sebagai keterampilan dalam hubungan manusia
d.      Sebagai kepemimpinan kooperatif.
Supervisi sebagai penggerak perubahan ditujukan untuk menghasilkan perubahan manusia kearah yang dikehendaki, kemudian kegiatan supervisi harus disusun dalam suatu program yang merupakan kesatuan yang direncanakan dengan teliti dan ditujukan kepada perbaikan pembelajaran. Terkait dengan itu, proses bimbingan dan pengendali maka supervisi pendidikan menghendaki agar proses pendidikan dapat berjalan lebih baik efektif dan optimal. Adapun indikasi lebih baik itu diantaranya adalah:
a.       Lebih mempercepat tercapainya tujuan
b.      Lebih memantapkan penguasaan materi
c.       Lebih menarik minat belajar siswa
d.      Lebih baik daya serapnya
e.       Lebih banyak jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar
f.       Lebih mantap pengelolaan administrasinya
g.      Lebih mantap pemanfaatan media belajarnya.
Menurut Zakiah Drajat ada tiga fungsi supervisor yaitu .fungsi kepemimpinan, fungsi pembinaan dan fungsi pengawasan.  Fungsi kepemimpinan kepala sekolah bertindak sebagai pencipta hubungan yang harmonis dikalangan guru-guru dan karyawan, pendorong bagi kepribadian guru dan karyawan sebagai pelaksana kegiatan belajar, pelaksana dalam pengawasan, dan pelaksana dalam penempatan atau pemberian tugas dan tanggung jawab terhadap guru dan karyawan. Fungsi pembinaan berarti kepala sekolah meningkatkan kemampuan profesi guru dalam bidang pengajaran, bimbingan dan penyuluhan dalam bidang pengelolaan kelas. Sedangkan fungsi pengawasan diartikan sebagai membina pengertian melalui komunikasi dua arah lebih menjamin terlaksananya kegiatan sesuai dengan program kerja. Jadi dari beberapa pendapat diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa inti dari fungsi supervisi pendidikan adalah ditujukan untuk perbaikan dan peningkatan pembelajaran.

4.      Tipe Supervisi
Burton dan Brueckner mengemukakan adanya lima tipe supervisi:
a.       Supervisi Sebagai Inspeksi
Biasanya berlaku pada tipe kepemimpinan otokratis, karena dalam supervisi ini ia bertindak sebagai inspektur pengawas yang bertugas mengawasi.
b.      Laises Faire
Tipe ini adalah kebalikan tipe sebelumnya, yaitu pemberian kebebasan pada guru dalam pelaksanaan pembelajaran, tanpa adanya bimbingan dan petunjuk.
c.       Coercive Supervision
Tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi, tipe ini bersifat pemaksaan kehendak / otoriter, namun untuk pelaksanaan hal-hal yang bersifat awal, tipe ini cukup baik.
d.      Training and Guidance
Pada tipe ini, supervisor bertugas memberikan bimbingan dan pelatihan pada bawahan mengenai pelaksanaan kegiatan. Namun, kelemahannya adalah terkadang pemberian petunjuk bersifat kolot dan cenderung statis.
e.       Demokratis
Seperti namanya, tipe ini bersifat demokratis juga dalam pelaksanaan supervisi. Pada tipe ini juga berlaku sistem pendistribusian dan pendelegasian.

5.      Prinsip Supervisi
Seorang pemimpin pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor dalam melaksanakan supervisi hendaknya bertumpu pada prinsip supervisi sebagai berikut:
1)                  Ilmiah (scientific) yang mencakup unsur-unsur sebagai berikut :
a.       Sistematis, yaitu dilaksanakan secara teratur, berencana dan kontinyu.
b.      Objektif artinya data yang didapat berdasarkan pada observasi nyata, bukan tafsiran pribadi.
c.       Menggunakan alat/instrumen yang dapat memberikan informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar.
2)                  Demokratis : Menjunjung tinggi asas musyawarah. Memiliki jiwa kekeluargaan yang kuat, serta sanggup menerima pendapat orang lain
3)                  Kooperatif :Seluruh staf sekolah dapat bekerja sama, mengembangkan usaha bersama dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
4)                  Konstruktif dan kreatif : Membina inisiatif guru serta mendorongnya untuk aktif menciptakan suasana dimana tiap orang merasa aman dan dapat mengembangkan potensi-potensinya.
Disamping prinsip itu dapat dibedakan juga prinsip positif dan prinsip negatif.
1)                  Prinsip positif, yaitu prinsip yang patut kita ikuti :
a.       Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif
b.      Supervisi harus kreatif dan konstruktif
c.       Supervisi harus scientific dan efektif
d.      Supervisi harus dapat memberi perasaan aman kepada guru-guru
e.       Supervisi harus berdasarkan kenyataan
f.       Supervisi harus memberi kesempatan kepada guru mengadakan Self Evolution.
2)                  Prinsip Negatif, yaitu prinsip yang tidak patut kita ikuti
a.       Seorang supervisor tidak boleh bersifat otoriter
b.      Seorang supervisor tidak boleh mencari kesalahan pada guru-guru
c.       Seorang supervisor bukan inspektur yang ditugaskan memeriksa apakah peraturan dan instruksi yang telah diberikan dilaksanakan dengan baik.
d.      Seorang supervisor tidak boleh menganggap dirinya lebih tinggi dari para guru.
e.       Seorang supervisor tidak boleh terlalu banyak memperhatikan hal kecil dalam cara guru mengajar.
f.       Seorang supervisor tidak boleh lekas kecewa jika mengalami kegagalan.
Bila prinsip-prinsip diatas diterima maka perlu diubah sikap para pemimpin pendidikan yang hanya memaksa bawahannya, menakut-nakuti dan melumpuhkan kreatifitas dari anggota staf. Sikap korektif harus diganti dengan sikap kreatif yaitu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana orang merasa aman dan tenang untuk mengembangkan kreatifitasnya.

6.      Teknik Supervisi Pendidikan

Dalam usaha meningkatkan program sekolah, kepala sekolah sebagai supervisor dapat menggunakan berbagai teknik atau metode supervisi pendidikan. Supervisi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan tujuan agar apa yang diharapkan bersama dapat tercapai. Teknik supervisi pendidikan berarti suatu cara atau jalan yang digunakan supervisor pendidikan dalam memberikan pelayanan atau bantuan kepada para supervisor.
Hendyat Soetopo membagi teknik supervisi menjadi empat bagian yaitu: Teknik Kelompok, Teknik Perseorangan, Teknik langsung, dan Teknik Tidak Langsung.  Kemudian Baharuddin Harahap mengemukakan teknik supervisi meliputi : Teknik Individual, Teknik Kelompok, Teknik Lisan, Teknik Tulisan, Teknik langsung dan Teknik Tak Langsung. Yang dimaksud dengan teknik perseorangan adalah supervisi yang dilakukan secara individual. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan yaitu :
1)                  Mengadakan Kunjungan Kelas (Class room Visitation). Ada 3 macam kunjungan kelas:
a.       Kunjungan tanpa diberitahu (unannounced visitation), supervisor tiba-tiba datang kekelas tanpa diberitahu terlebih dahulu.
b.      Kunjungan dengan cara memberitahu terlebih dahulu (announced visitation)
c.       Kunjungan atas undangan
2)                  Mengadakan kunjungan observasi (Observation Visit). Ada 2 macam observasi kelas:
a.       Observasi langsung (direck observation)
b.      Observasi tak langsung (indireck observation)
3)                  Membimbing guru-guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa atau mengatasi masalah yang dialami siswa.
4)                  Membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah antara lain :
a.       Menyusun program catur wulan/ program semester
b.      Menyusun atau membuat program satuan pelajaran
c.       Mengorganisasi kegiatan-kegiatan pengelolaan kelas
d.      Melaksanakan teknik-teknik evaluasi pengajaran
e.       Menggunakan media dan sumber dalam PBM
f.       Mengorganisasi kegiatan siswa dalam bidang ektrakurikuler, studi tour dan sebagainya.
Sedangkan teknik kelompok adalah suatu cara pelaksanaan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Bentuk-bentuk teknik yang bersifat kelompok ini, diantaranya yang paling pokok adalah :
a.       Dengan mengadakan pertemuan atau rapat dengan guru-guru untuk
b.      membicarakan berbagai hal yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa.
c.       Mengadakan dan membimbing diskusi kelompok diantara guru-guru bidang studi.
d.      Memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk mengikuti penataran yang
e.       sesuai dengan bidangnya.
f.       Membimbing guru-guru dalam mempraktekkan hasil-hasil penataran yang telah diikuti.
Adapun teknik kelompok diantaranya yang umum dikenal adalah :
a.       Pertemuan orientasi bagi guru baru.
b.      Kepanitiaan
c.       Rapat Guru
d.      Diskusi
e.       Tukar menukar pengalaman (sharing of experience).
f.       Loka Karya (workshop)
g.      Diskusi Panel
h.      Seminar
i.        Simposium.
Teknik langsung adalah teknik yang digunakan secara langsung seperti penyelenggaraan rapat guru, workshop, kunjungan kelas, mengadakan converence. Sedangkan teknik tidak langsung adalah teknik yang dilakukan secara tidak langsung misalnya melalui bulletin board, questioner. Teknik lisan adalah supervisi yang dilakukan secara tatap muka misalnya, supervisor mendiskusikan hasil observasi yang dilakukan guru, rapat dengan guru membicarakan hasil evaluasi belajar. Sedangkan teknik tulisan adalah supervisi yang dilakukan dengan menggunakan tulisan misalnya dalam kegiatan observasi untuk memperoleh data yang objektif tentang situasi belajar mengajar, supervisi menggunakan alat-alat observasi berbentuk chek-list atau daftar sejumlah pertanyaan (evaluatif chek-list).



























DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Pedoman penyelenggaraan Administrasi pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1981) cet Ke-1. Baharuddin Harahap, Supervisi Pendidikan, (Jakarta : PT. Ciawi Jaya, 1983).
Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara, 1994).
Hadari Nawawi, Administrasi pendidikan, (Jakarta : CV. Haji Masagung, 1989). Cet. Ke-1.
Hendiyat Soetopo dan Wasti Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta Bumi Aksara, 1998), Cet Ke-2.
Imam Soepandi, Dasar-dasar Administrasi Pendidikan, Universitas Jember Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, (Jakarta : 1998).
N.A. Ametembun, Supervisi Pendidikan Penuntun Para Penilik Pengawas dan Guru-guru (Bandung : Suri, 2000), Edisi ke-5.
Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta : Remaja Rosdakarya, 2000).
Oteng Sutisna, Administrasi dan Supervisi Pendidikan Dasar dan Teoritis Untuk Praktek Profesional, (Bandung : Angkasa 1989), Edisi Ke-5.
Parsono, et.al, Landasan Kependidikan, (Jakarta : Universitas Terbuka 1992).
Piet A. Sahertian, Supervisi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta 2000), Cet. Ke-1.
Piet. A. Sahertian dan Frans Mataheru, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya :Usaha Nasional, 1981) Cet Ke-1.
Soekarto Indra Fachrudi, Bagaimana Memimpin Sekolah Yang Baik, (Jakarta : Ghalia Indonesia), Cet. Ke-3.
Subari, Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Perbaikan Situasi Belajar Mengajar, (Jakarta :Bumi Aksara, 1994).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar